Materi 2
Suku Gumai
Pengenalan
Suku Gumai
Suku
Gumai (Gumay) adalah salah satu suku yang mendiami beberapa daerah di kabupaten
Lahat provinsi Sumatra Selatan. Suku Gumai terdiri dari 3 marga, yaitu Marga
Gumai Talang, Marga Gumai Lembak dan Marga Gumai Ulu. Ketiga komunitas marga
(klan) ini saling hidup berdampingan pada suatu wilayah yang menjadi cikal
bakal kota Lahat. Ketiga marga ini hidup dalam satu adat, yaitu adat Gumai.
Setelah
terbentuknya masa pemerintahan Republik Indonesia, wilayah adat marga suku
Gumai dibagi menjadi dua kecamatan. Dan wilayah pemukiman ketiga marga ini pun
terpisah oleh dua sebutan nama wilayah, yaitu kecamatan Pulau Pinang tempat
beradanya Marga Gumai Lembak dan Gumai Ulu, sedangkan Gumai Talang menjadi bagian
dari kecamatan Kota Lahat.
Marga
Suku Gumai
Istilah
marga yang pada awalnya adalah suatu istilah menyebut kan atau wilayah adat
pada suku Gumai. Tetapi beberapa waktu belakangan ini, marga semakin penting
fungsinya, karena saat ini beberapa anggota suku Gumai telah mencantumkan marga
Gumai di belakang nama depannya. Misalnya Rudi Gumai atau Natalia Gumai.
Penggunaan marga yang disandingkan dengan nama depan, menunjukkan tempat asal
usul, keturunan maupun nama keluarga, yang menjadi identitas diri bagi
masyarakat suku Gumai.
Peranan
marga pada suku Gumai, merupakan suatu sistem hukum adat bagi masyarakat suku
Gumai. Bagi ketiga marga Gumai, yaitu Marga Gumai Talang, Gumai Ulu dan Gumai
Lembak, ini menjadi identitas bahwa mereka berasal dari satu rumpun yang sama.
Suku
Gumai dalam meneruskan keturunan mereka berdasarkan sistem patrilineal, yang
mana marga diturunkan berdasarkan garis keturunan bapak. Jadi sang anak menerus
garis keturunan sang bapak menurut marga asal mereka.
Bahasa Suku
Gumai
Bahasa yang
diucapkan oleh masyarakat suku Gumai, disebut sebagai bahasa Lematang. Bahasa
Lematang ini juga diucapkan oleh suku Lematang yang hidup di bagian lain di
Sumatra Selatan. Walaupun suku Gumai berbicara dengan bahasa yang sama dengan
suku Lematang, tetapi di antara kedua suku ini tidaklah Serumpun. Suku Gumai
justru serumpun dengan suku Pasemah dan suku Semidang. Mereka juga memiliki
aksara kuno, yaitu aksara ke-ge-nge (huruf rincung)
yang disebut juga sebagai Surat Ulu.
Seni dan
Kebudayaan Suku Gumai
Seni dan
kebudayaan suku Gumai terdiri dari beberapa tari-tarian, lagu-lagu daerah dan
sastra lisan, seperti guritan dan pantun bersahut serta pencak silat serta alat
musik yang menjadi ciri khas suku Gumai yang berupa ginggung, serdam, rebab,kenung dan gong.
Agama Suku
Gumai
Suku Gumai
saat ini secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam yang taat melaksanakan
syariat dalam agama yang mereka anut.
Adat Istidat
Suku Gumai
Salah satu
upacara suku Gumai adalah Ritual Adat Sedekah, yang mengandung tradisi kuno
seperti pada masa sebelum mereka memeluk agama Islam, yaitu beberapa upacara
adat yang masih terkandung unsur animisme dan dinamisme, yang kemungkinan
berasal dari masa nenek moyang mereka. Upacara ritual adat ini berupa sesaji
yang terdiri dari bubur malam 14, bubur biasa, kue apam, lemang, punjung telur,
daun sirih, daun gambir, kapur sirih, ayam putih kuning, ayam putih pucat dan
cangkir-cangkir yang berisi air jernih. Adat sedekah malam 14 ini semacam suatu
untuk berkomunikasi antara Jurai Kebali’an (seorang pimpinan Gumai) dengan
Tuhan.
Asal-usul
Suku Gumai
Tentang
asal-usul suku Gumai ini, memiliki banyak versi yang rata-rata hanya cerita
rakyat berbentuk mitos-mitos yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Namun
diperkirakan suku Gumai ini adalah salah satu dari bangsa deutro malayan yang
hijrah bermigrasi secara besar-besaran menuju asia tenggara, yang mana salah
satu kelompok adalah suku Gumai yang mendarat di pantai Sumatra sebelah timur.
Salah satu
cerita rakyat Gumai, adalah bahwa asal muasal keturunan suku Gumai pertama
kali berawal dari bukit Siguntang. Dikisahkan tentang seorang yang bernama Diwe
Gumai lah yang menjadi orang Gumai pertama, yang keturunannya menjadi
masyarakat suku Gumai sekarang.
Cerita
rakyat lain, mengisahkan bahwa suku Gumai sebenarnya masih berkerabat dengan
suku Lampung, yang kemungkinan besar mereka satu nenek moyang dengan suku
Lampung, atau bisa juga mereka berasal dari keturunan suku Lampung yang
bermigrasi ke wilayah suku Gumai sekarang ini.
Kehidupan
masyarakat Gumai bersifat gotong royong dalam usaha pertanian dan usaha
kemasyarakatan lainnya. Pada masa dahulu, suku Gumai ini termasuk suku-bangsa
yang menerapkan hidup secara nomaden yang mempraktekkan hidup secara
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, demi mencari lahan baru
untuk membuka perladangan. Dahulu mereka juga berburu binatang liar di hutan
untuk memenuhi sumber kehidupan mereka. Saat ini mereka telah memasuki era yang
lebih maju, dan telah hidup menetap serta membuka lahan pertanian sawah dan
perladangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar